Peristiwa
persalinan adalah peristiwa normal dalam kehidupan suatu keluarga, sehingga
melahirkan di rumah dengan ditolong tenaga kesehatan merupakan pilihan yang
bisa dilakukan oleh perempuan. Studi kualitatif fenomenologi untuk menggali
makna melahirkan di rumah bagi perempuan yang melahirkan ditolong tenaga
kesehatan belum banyak dilakukan.
Sejarah tempat
persalinan dari abad ke abad telah
mengalami pergeseran. Sebelum abad ke 20 persalinan sering dilakukan di rumah (Calcette, Dos Santos, Collaco, Granemann
& Dario, 2011). Pada permulaan abad ke 20 terjadi perpindahan tempat
persalinan dari rumah ke rumah sakit. Asuhan maternitas ilmiah di rumah sakit
sejak saat itu semakin terkenal, terutama di Amerika. (Gorrie, McKinney & Murray, 1998; Zwelling & Phillips, 2001).
Meningkatnya penggunaan
teknologi pada pelayanan perinatal, menyebabkan klien tidak diperlakukan
sebagai subyek. Hal ini disadari betul oleh perawat, sehingga timbul gerakan
persalinan natural yang menghendaki persalinan berfokus pada keluarga (family centered) sebagai pengganti model
medis. Perhatian terhadap penggunaan teknologi di rumah sakit yang berlebihan,
kurangnya keterlibatan keluarga dan kurangnya kontrol personal membuat klien
mencari pertolongan persalinan di rumah sebagai pilihan (Phillips, 1999; Zwelling & Phillips, 2001).
Istilah “Persalinan
Natural” mengacu pada berbagai metode, termasuk pada pendekatan Lamaze,
Bradley, dan home-birth atau
persalinan di rumah, yang menitik beratkan pada acara alami atau kurang
mengandalkan teknologi medis (Cosans,
2004).
Persalinan di
rumah dipilih karena berbagai alasan. Jouhki (2012) menemukan alasan utama
perempuan memilih persalinan di rumah, yaitu pengalaman persalinan yang lalu,
pertimbangan persalinan merupakan proses alami, otonomi meningkat, lingkungan
rumah, institusi, keinginan untuk memilih penolong persalinan, ketidakpercayaan
pada kemapanan medis, dan kesempatan anak yang lain atau saudara kandung
bayinya untuk menyaksikan persalinan. Menurut partisipan dalam penelitian kualitatif
ini yang paling penting adalah otonomi, sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh
fasilitas pelayanan kesehatan pada umumnya.
MAKNA MELAHIRKAN DI RUMAH BAGI SEORANG PEREMPUAN
·
Melahirkan
merupakan Suatu Kodrat bagi Seorang Ibu
Melahirkan
dianggap sebagai kesempurnaan peran perempuan, seperti ungkapan partisipan
(klien) berikut : “.. melahirkan memang
sudah kodrat perempuan ya.. jadi ya harus dijalani..” . Makna melahirkan
sebagai kodrat perempuan lebih jauh dijelaskan oleh partisipan yaitu harus
merasakan sakit pada saat melahirkan dan menjalani perjuangan hidup yang
membawa ibu pada kepasrahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka menganggap
bahwa melahirkan identik dengan rasa sakit atau perjuangan hidup dan mati. Penderitaan
menghadapi nyeri persalinan harus disikapi dengan sikap menerima : “Walaupun sakit karena ingin punya anak ya
harus diterima saja.. sakit ataupun tidak saya terima saja. Itu sudah kodrat
perempuan..” .
·
Kebahagiaan
bagi Seorang Perempuan yang Melahirkan di Rumah
Walaupun
persalinan dianggap identik dengan nyeri tetapi semua partisipan mengungkapkan
tentang pengalaman kebahagiaan pada saat melahirkan di rumah. Melahirkan di
rumah justru tidak perlu banyak persiapan dan kerepotan yang ditimbulkan makin
menambah kebahagiaan : “Ya seneng,
Alhamdulillah sudah melahirkan, padahal saya hanya orang seperti ini, persiapan
melahirkan juga tidak banyak bu..”. Melahirkan di rumah juga memberikan
keistimewaan karena lingkungan yang tidak asing dan bisa didampingi oleh orang
terdekat, bukan hanya suami.
·
Makna
Pembelajaran bagi Keluarga Ketika Ibu Melahirkan di Rumah
Untuk menjalani proses
persalinan di rumah, tidak hanya ibu tetapi seluruh anggota keluarga harus
disiapkan, baik secara fisik maupun psikologis. Menurut pengalaman partisipan,
melahirkan di rumah merupakan suatu tahapan pembelajaran kepada keluarga untuk
mengetahui atau memahami bahwa persalinan itu merupakan suatu peristiwa alamiah
yang harus dilewati oleh seorang ibu.
Makna
melahirkan dirasakan oleh partisipan yang melahirkan di rumah sebagai kodrat
seorang perempuan seperti halnya menstruasi, hamil, dan menyusui karena
semuanya itu merupakan keadaan manusia yang tidak dapat diubah atau pun
ditolak. Persalinan mengandung makna perjuangan menghadapi rasa sakit yang
dipercaya oleh perempuan sebagai keharusan.
Kebahagiaan
bagi Seorang Perempuan yang Melahirkan di Rumah, kebahagiaan di sini dapat
dikatakan sebagai kepuasan terhadap persalinan dan pengalaman persalinan yang
positif. Menurut Janssen, Henderson, dan Vedam (2009) persalinan yang positif
itu, perempuan merasakan pengalaman tentang kepercayaannya terhadap
keterampilan dan pengetahuan bidan yang menolongnya, dukungan emosi, dan
pemberdayaan yang mereka peroleh melalui hubungannya dengan bidan, persepsi
rileksasi terhadap suasana rumahnya sendiri yang tidak asing, mereka terinformasi,
dan terlibat dalam perencanaan perawatannya, dan lamanya waktu yang dihabiskan
oleh bidan penolongnya bersama mereka dan keluarganya.
Makna
pembelajaran bagi keluarga khususnya anak-anak untuk mengetahui atau memahami
bahwa persalinan itu merupakan suatu hal alamiah yang dialami oleh seorang ibu.
Beberapa keuntungan persalinan di rumah adalah ibu tetap berada pada lingkungan
keluarganya sehingga hal tersebut meningkatkan tumbuh kembang seluruh anggota
keluarga, sibling atau anak-anak yang
lain tidak perlu terpisah dengan ibunya sehingga mendukung penerimaan mereka
terhadap anggota keluarga yang baru lahir. Selain itu juga persalinan di rumah
memberikan pelajaran bagi suami. Jouhki, Suominen, dan Astedt-Kurki (2015) mengungkapkan
pendapat para suami yang mendampingi istrinya dalam persalinan di rumah. Pengalaman
para suami meliputi berbagai tanggung jawab, mendukung istri, dan berpatisipasi
dalam proses persalinan.
Itu
saja penjelasan tentang Makna Melahirkan Di Rumah bagi Seorang Perempuan. Mohon
maaf jika masih ada yang kurang dalam penjelasannya. Sekian dan Terimakasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar